Prinsip
Dasar dari KeyHole Garden
• Ide awal
KeyHole Garden adalah memanfaatkan limbah dapur, sebagai pupuk gratis untuk
tanaman kita.
• Diawali
dengan membuat dinding berbentuk lingkaran, tapi diberi celah di satu sisi. Dan
ditengahnya di beri lubang untuk memasukkan sampah dapur yang akan di daur
ulang.
• Dinding
tersebut digunakan untuk menahan media tanam, yang nantinya akan kita tanami.
• Lubang tempat sampah dapur disirami secara
berkala, maka akan terjadi pembusukan, dan hasil pengkomposan akan mengalir
bersama air dan di serap oleh media tanam disekitarnya.
Skema KeyHole Garden
Untuk urusan
kesuburan tanah, yang paling sering dilakukan adalah membuat lapisan-lapisan
yang terdiri dari ranting-ranting, daun-daun segar (lapisan hijau), daun-daun kering/jerami/kertas (lapisan coklat), kotoran binatang pemakan rumput (lapisan manure, bisa langsung ditebar atau
dicampur dulu dengan air), tanah, kemudian
diulang mulai dari lapisan hijau sampai ketinggian dirasa cukup. Dapat pula
menambahkan beberapa potong kayu besar di bagian paling bawah, terutama di
lahan berpasir. Kayu yang membusuk menyerap air dengan baik, sehingga
kekeringan dapat diminimalisir. Satu hal lain yang perlu dilakukan adalah
memastikan tidak ada sampah plastik, kaca, styrofoam, maupun besi yang
tercampur pada lapisan-lapisan tadi.
Ketika
ketinggian lapisan-lapisan dirasa cukup, maka kita sudah punya yang
namanya bedeng, alias planting beds atau
tempat menanam. Biasanya bedeng-bedeng dibiarkan dulu selama minimal dua minggu
sampai semua lapisan membusuk, sehingga kelak tersedia banyak nutrisi bagi
perkembangan tanaman. Namun beberapa bedeng dapat langsung ditanami benih atau
bibit kacang-kacangan maupun polong-polongan, karena selain mudah tumbuh,
kacang-kacangan dan polong-polongan memiliki jenis akar yang dapat mengikat
nitrogen, sehingga nantinya tanah cocok bagi pertumbuhan beberapa jenis sayur,
rempah, maupun buah. Bedeng juga bisa dibatasi sisi-sisinya dengan batu-batu,
botol, kayu, bambu, dll. Selain hasilnya lebih cantik, kita juga tahu batas
bedeng ketika lapisan tanah sudah sangat turun, sehingga akan lebih mudah untuk
menambahkan lapisan tanah dan kompos.
Bentuk bedeng
tidak harus kaku. Di sinilah desainer kebun mengerahkan kreativitasnya. Bedeng
bisa didesain berbentuk lingkaran, spiral, mandala, segitiga… apapun! Yang
jelas, satu hal harus diperhatikan: akses. Orang yang akan menanam, merawat,
dan memanen perlu jalan untuk mencapai seluruh sisi dan sudut bedeng. Tiap
bedeng juga sebaiknya tidak terlalu lebar. Ada satu aturan penting yang
dipegang kuat oleh para anggota Permablitz Jogja: Ketika lapisan-lapisan bedeng
sudah tersusun, tidak ada yang boleh menginjaknya… selamanya! Menginjak bedeng
berarti mengganggu atau bahkan mematikan berbagai mikro-organisme (bakteri,
cacing, serangga, dll.) yang mengurai lapisan-lapisan organik menjadi nutrisi.
Maka hormati dan jagalah keberadaan mereka.
Bagaimana
jika lahan tidak mendapat paparan sinar matahari yang mencukupi? Nggak bisa
tanam sayur dan buah-buahan dong? Tidak perlu sedih, dan tentunya tidak perlu
memaksakan diri. PIlihlah jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak sinar
matahari, seperti rempah-rempah berumbi semacam kunyit, jahe, temulawak, dsb.,
atau tanaman-tanaman yang dapat menyerap polusi, semisal lili paris,
pakis-pakisan, lidah buaya, lidah mertua, dll. Jika tetap nekat menanam
sayur-sayur dan buah-buahan, tak apa. Bereksperimen positif di kebun sendiri
sangat disarankan.
Apa
lagi yang perlu dibuat?
Apa
lagi yang perlu dibuat?
Selama waktu
mencukupi, banyak ragam bedeng maupun elemen-elemen kreatif kebun yang dapat
dikerjakan. Selebaran ini tidak cukup untuk menjelaskan semuanya, jadi cobalah
mencari informasi tambahan mengenai: kebun spiral (spiral garden),
kebun lubang kunci (keyhole garden), menara cacing (worm tower), kebun cacing (worm farm), tempat
kompos (compost pile), lingkaran pisang (banana circle), tempat pembibitan (seedling area), serta tumpang sari (companion planting). Semuanya sudah pernah dibuat oleh
para anggota Permablitz Jogja, baik bersama-sama maupun secara individual. Coba
gabungkan ke dalam desain selama memungkinkan. Yang jelas, kontur tanah, fitur-fitur
yang sudah ada (misalnya bangunan, kolam, pohon), kebiasaan-kebiasaan maupun
kebutuhan-kebutuhan tuan rumah menjadi beberapa faktor penting yang menentukan
desain kebun permakultur.







0 komentar:
Posting Komentar